Rabu, 30 Maret 2011

KUBAH EMAS dan SETU PENGARENGAN






Masjid Kubah Emas Magnet Baru Kaum Muslimin
Rosmita
INNChannels, Jakarta - Masjid Dian Al Mahri atau lebih dikenal sebagai kubah emas begitu fenomenal dalam kurun waktu setahun belakangan. Masjid ini menjadi ikon dan magnet baru bagi muslim Indonesia.

Masjid ini membuat takjub siapapun yang pernah melihatnya, yaitu kubahnya yang terbuat dari emas. Tak heran jika masjid tersebut lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kubah Emas Depok. Masjid termegah di kawasan Asia Tenggara.

Sangat luar biasa, itulah kalimat pertama yang diucapkan pengunjung saat pertama kali melihat Masjid Dian Al Mahri di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Sebuah masjid megah berkapasitas 20 ribu jemaah tampak berdiri kokoh di atas lahan seluas 70 hektar. Bangunan masjid memiliki luas 8.000 meter persegi yang terdiri dari bangunan utama, mezanin, halaman dalam, selasar atas, selasar luar, ruang sepatu dan ruang wudu. Masjid ini mampu menampung 15 ribu jemaah shalat dan 20 ribu jemaah taklim.

Masjid yang indah dan megah ini membuat rasa penasaran pengunjung luar Jakarta untuk datang secara langsung melihat keunikan masjid ini. Mereka datang dari berbagai daerah, baik yang ada di sekitar Bogor, Bandung, maupun kota dan daerah lain di luar Jawa Barat dan Pulau Jawa. Seolah tak kenal waktu, siang dan malam pengunjung terus berdatangan silih berganti, seperti ada magnet spiritual yang begitu kuat menarik mereka.

Seperti yang dialami pengunjung bernama Rusdi. “Saya jauh-jauh datang dari Lampung ke sini karena penasaran saja ingin melihat masjid yang katanya terbuat dari emas. Tadinya saya kurang yakin, apa benar ada masjid dibuat dari emas. Tapi, setelah melihat sendiri, saya percaya,” kata pria paruh baya itu yang juga menyempatkan diri shalat Jumat di Masjid Kubah Emas.

Masjid ini telah resmi dibuka untuk umum bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, 31 Desember 2006. "Pembangunannya memang sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum 31 Desember 2006. Setelah shalat Idul Adha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini.

“Saat itu, tak kurang dari lima ribu jemaah mengikuti pro-sesi peresmian masjid ini," kata Ir H Yudi Camaro MM, pengelola Masjid Dian Al Mahri. Selain masjid, lahan di sekeliling masjid juga dijadikan islamic centre. “Ada lembaga dakwah dan rumah tinggal sebagai tempat aktivitas keagamaan di kompleks masjid ini, “tambahnya.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Halaman dalam berukuran 45x57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia. Sedangkan untuk parkir, disiapkan lahan seluas 7.000 meter persegi yang mampu menampung kendaraan 300 bus atau 1.400 kendaraan kecil.

Sedangkan teknologi pemasangan emas pada kubah masjid dilakukan melalui tiga cara. Pertama, dengan serbuk emas (prada). Teknik prada digunakan pada pemasangan emas di bagian mahkota pilar (tiang kapital) yang ada di dalam bagian interior masjid.

Kedua, teknik gold plating, yakni teknik pemasangan dengan pelapisan emas berbahan dasar kuningan dan tembaga. Digunakan pada pemasangan lampu gantung, railling tangga mezanin, pagar mezanin, ornamen kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornamen dekoratif di atas mimbar mihrab.

Ketiga, teknik gold mozaic solid, yakni teknik pemasangan emas dengan ketebalan tertentu, biasanya dengan ketebalan lapisan emas sekitar 2 mm. Teknik ini digunakan pada pemasangan emas di kubah utama dan kubah menara. “Teknik pemasangan emas dan lampu gantung seluruhnya dikerjakan oleh ahli dari Italia,” kata Yudi.

Masjid ini memiliki peraturan yang cukup ketat, misalnya saja anak-anak yang berumur di bawah 10 tahun dilarang masuk ke dalam masjid. Anak-anak ini hanya boleh masuk aula saja. Untuk masalah kebersihan dan kesucian masjid, disiapkan petugas keamanan yang menjaga di sekeliling mesjid. Petugas seringkali dengan ramah mengingatkan pengunjung, misalnya untuk tidak membuang sampah sembarangan atau menginjak rumput.

Di masjid inipun digelar pengajian atau acara ceramah rutin bersama beberapa ustadz yang memang menguasai bidang kajiannya masing-masing. Sehingga masjid ini tak hanya megah secara fisik tapi juga ramai dengan kegiatan-kegiatan keagamaan setiap harinya.



SETU PENGARENGAN,PROSPEKTIF SEBAGAI OBYEK WISATA KELUARGA


situ
           Setu memiliki fungsi yang penting, bias menjadi tempat parkir air sekaligus sebagai kawasan resapan. Setu juga memiliki fungsi mengurangi volume air permukaan (run off) yang tak tertampung dan menjadi penyebab banjir/genangan. Pada kondisi tertentu, setu dapat berperan sebagai pembangkit listrik, pengimbuh (recharge) air pada cekungan air tanah serta penahan instrusi air asin. Fungsi situ-situ di jabodetabek didominasi untuk irigasi (44%) disusul sebagai tendon air(31%), pengendalian banjir(10%), perikanan(8%), wisata alam(3%) dan lainnya(4%).
             Diluar fungsi �nature� itu, setu juga menyimpan manfaat yang cukup besar antara lain manfaat sosioekonomis sebagai cadangan sumber air bersih, sumber penyedia protein dari sector perikanan darat, sarana rekreasi dan banyak lagi. Pemanfaatan setu-setu di kawasan jabodetabek umumnya sebagai sumber air bersih untuk mandi dan cuci. Perikanan budidaya dan non-budidaya, irigasi pertanian, dan wisata air. Kebijakan pengelolaan Setu.
           Situ di kota Depok telah cukup lama memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya, bahkan sebagai  sumber pasokan air ke sebagian kecil ke wilayah Jakarta, yaitu situ dongkelan dan situ Tipar. Pembangunan fisik khususnya pemukiman skala kecil dan luas telah menimbulkan berbagai masalah lingkungan,termasuk �mengancam� kelestarian dan keberadaan situ di kota depok. Pembangunan telah menimbulkan turunnya luas permukaan dan kapasitas setu sehingga berkurang kemampuannya sebagai panahan laju aliran yang mengakibatkan masalah banjir secara local dan dijakarta. Bahkan situpun telah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah sehingga memicu pencemaran.
            Menyadari ancaman serius di atas, pemerintah kota Depok tidak tinggal diam. Pada tahun 1999 lalu melalui SK Walikita Depok No.8221.29/71/KPTS/HUK/1999 Terbentuk Kelompok Kerja (POKJA) untuk mengontrol, melindungi dan mengembalikam fungsi setu. Pokja yang berbasis civil society ini bertugas menyusun rencana dan pelaksanaan pengelolaan situ, mengorganisasi rehabilitasi, konversi dan perlindungan setu yang layak dan efektif . Tidak hanya itu, pemerintah kota melalui RPJMD (Rencana penbangunan Jangka Menengah) 2006-2011 menempatkan situ sebagai  persoalan �urgent� sebagai bagian tak terpisahkandari kebijakan pengelolaan lingkungan hidup kota. Melalui pogram pengendalian banjir, dengan sumber pembiayaan lintas level prmerintahan (APBN,Hibah DKI,APBD Jabar  dan kota Depok) berbagai kegiatan telah di gulirkan dalam rangka konservasi dan pemanfaatan situ sebagai resapan air. Kebijakan pokok pengelolaan setu di kota depok adalah 1). membangun, meningkatkan dan mengembalikan fungsi Setu dan waduk sebagai  daerah penampungan air, 2). meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai dan setu dalam kurun waktu.
Situ pangarengan
         Salah satu yang strategis untuk di jaga dan bahkan  �diberdayakan� sehingga memberi nilai tambah bagi kemaslahatan masyarakat tanpa merusak kelestariannya adalah situ pangarengan, yang terletak di kelurahan Bakti jaya,  kecamatan Sukma jaya. Situ ini sebagian terdiri dari danau dengan luas sekitar 10ha membentang dari utara ke selatan dengan batas sebelah utara dengan jalan juanda, selatan dengan lading,dan semak belukar, timur dengan lahan kosong dan barat dengan perumahan penduduk. Tanah di sekitar situ sebagian besar di miliki RRI, dengan bentuk fisiografi berupa dataran dengan kemiringan kurang dari 3% persis di bagian utara brebatasan dengan jalan juanda dan rencana jalan tol cijago.
            Melalui kegiatan studi pengembangan situ Pengarengan yang di lakukan oleh Bappeda, di analisis potensi pengembangannya ke depan. Khususnya sebagai obyek wisata. Berdasarkan analisis makro (konsep SWOT), yang dilengkapi dengan analisis lokasi (pergerakan, asosiasi, kesesuaian tema pengenbangan, bentuk bidang tanah, fisiografi, aksesibilitas, dan harga tanah) Situ pangarengan berpotensi besar untuk di kembangkan sebagai bagian dari potensi wisata yang harus terintegrasi dengan pengembangan kota wisata. Alasannya karena memiliki karakteristik fisik akan yang baik, luas lahan cukup, dan terdapat embrio kegiatan ekonomi kota di sekitar lokasi, serta memiliki aksesibilitasan yang tinggi. Konsep pengembangan di arahkan pada tema �Taman Danau� dengan fungsi ganda yaitu kelestarian lingkungan hidup dan fungsi kegiatan ekonomi produktif. Fungsi alami situ di kembangkan dengan tema taman yaitu ruang terbuka hijau dengan mengandalkan variasi jenis tanaman untuk tiap detail lansekap. Adapun fungsi ekonomi produktif sebagai sub-tema di kembangkan dalam wujud food square, wisata air, kegiatan outbound, serta panggung terbuka untuk apresiasi seni dan budaya. Konsep food square berbentuk sentra makanan dan minuman baik tradisional maupun modern dengan melibatkan pedagang kaki lima (PKL) terbina. Lokasi situ sangat tepat karena bias mengadopsi pergerakan orang pada pasar kaget jalan juanda yang selama ini sudah ada. Konsep penataan ruang dan bangunan di arahkan untuk penyedian kicir air, jalan akses, pintu gerbang, cafe danau, rumah makan atau restaurant tepi danau, taman rekreasi sepeda air, taman pemancingan ,  outbound, camping ground, area gokart, jogging track, panggung terbuka, food court, area PKL, area pembibitan tanaman hias, lapangan parkir dan fasilitas umum, serta hutan kota. Secara spasial konsep ini dapat di lihat pada gambar.
Tidak Lanjut
                Kajian telah di buat, semoga tidak Cuma tinggal kajian, apalagi sudah di ekspose lewat media, peluang seperti ini tentu hanya pemda yang menangkap, justru swastalah yang harus merespon cepat, apalagi tergambar cukup prospektif. Melalui kerja sama dunia usaha, RRI (dalam konteks pemilikan lahan situ). Akan mudah di wujudkan keinginan kita semua untuk memiliki tempat wisata keluarga, sekaligus wisata pendidikan yang representatif. Pengembangan situ pangarengan sebagai obyek wisata juga berdimensi ganda karena memperluas ruang terbuka hijau (RTH) dan memberi ruang bagi berkembangnya usaha kecil dan menengah dan mikro semacam PKL, yang dengan tegas diamanatkan oleh UU Tata Ruang.                                                                                                                                                             
Mengoptimalkan Ekowisata di kota Depok
Membangun kota depok menjadi kota wisata bukanlah Sesuatu yang mustahil. Apalagi, Depok memiliki sejumlah potensi wisata yang tersebar di enam kecamatan terutama wisata lingkungan  atau Ekowisata. Seorang praktisi lingkungan Heri Syaefudin atau lebih akrab di panggil Heri Gonku menuturkan tentang optimalisasi wilayah konservasi atau sempadan Situ sebagai obyek wisata yang menjanjikan.
                Menurut Heri, warga kota depok dikenal sebagai masyarakat commuter yang kerap kali pulang-pergi depok-jakarta untuk urusan pekerjaan. Setelah lehih dan lelah bekerja, kebanyakan mereka butuh refresing ke tempat-tempat wisata yang mudah di jangkau dari sisi lokasi dan harga namun tetap nyaman. Sebagian wilayah di kota depok memenuhi persyaratan tersebut. Sehingga keinginan dan kebutuhan masyarakat depok untuk berwisata bias di jadikan potensi untuk mengembangkan lokasi-lokasi wisata lingkungan di kota belimbing ini.
                Depok memiliki tak kurang dari 26 Situ yang bias di optimalisasikan. �Depok di juluki sebagai kota Seribu Situ�. Kita bias menggarap kawasan konservasi tersebutuntuk di kelola menjadi kawasan ekowisata. Kita harus menjaga kawasan lingkungan (ekologi), dan membuat tempat tinggal senyaman mungkin. Apalagi depok tidak terlalu jauh dari ibukota dimana masyarakatnya butuh dan merindukan tempat yang sejuk, nyaman dan segar. Daripada harus wisata ke puncak, atau sukabumi. Yang lokasinya jauh dan seringkali macet, lebih baik kita memaksimalkan potensi wisata di kota ini, �Papar Heri Syaefudin.
                Heri mengajak mengajak masyarakat untuk menengok kawasan Situ pangasinan, sawangan, Depok. Pada hari libur,kawasan tersebut ramai di kunjungi orang. Bahkan, untuk permainan sepeda air, para pengunjung rela antri dari pagi hingga menjelang malam.
                Menurut pria, landscaper  dari gonku Landscape and Stock Plant ini, Ekowisata memebutuhkan orang yang punya duit, peduli lingkungan dan kreatif yang bisa di daulat sebagai �bapak asuh lingkungan�. Sehingga , kegiatan nya tidak sekedar membuang-buang duit, justru malah menghasilkan. Wilayah konservasi atau Sempadan situ tersebut bisa di padukan  dengan membangun wahana children playground, wisata tanaman dan ikan hias, water games, mengadakan pelatihan lingkungan, green camp,kunjungan belajar, membuat laboratorium biologi membuat kegiatan camping di hari libur. Dengan demikian lokasi tersebut bisa mendatangkan income, kemudian semua pihak bisa menikmati keindahan alamnya. Yang tak kalah penting kelestarian lingkungan dan keberadaan Situ tetap terjaga.
                Bapak Asuh Lingkungan tetap bisa mendapatkan kenyamanan di lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kawasan Situ. Dia juga bisa menjadi pengelola dan mendapatkan income. Tetapi yang harus di tegaskan, Bapak Asuh lingkungan tadi harus membangun tempat wisata yang searah dengan misi lingkungan dan tetap mengkonservasi wilayah tersebut, �tegas Heri ".
                Heri melontarkan ide,di sempadan situ, kita bisa memelihara ikan di areal water catchmen (tangkapan air) tanpa harus merusak. Bahkan kalau perlu  di kembangkan menjadi pemancingan. Lebih jauh lagi, membuat jasa pembakaran ikan atau restauran yang mendatangkan income lebih. Namun dengan catatan, tidak merusak wilayah konservasi dan mengikuti aturan yang berlaku.
                Harus disadari bahwa depok sangat mungkin menjadi kota wisata selama ada kemauan dari pemerintah dan warga serta kreativitas orang-orang berduit yang berani melihat peluang ini. Semua itu tidak sulit, tinggal mengcopy paste konsep wisata yang sudah ada. Kita juga berharap, Pemerintah tegas untuk melindungi wilayah sempadan,�pungkas Heri".
                Dia ingin membangun mindset (pola pikir) bahwa kepedulian terhadap lingkungan itu menjadi sangat penting. Sebab, kalau lingkungan rusak maka akan merugikan banyak pihak bahkan uang tidak ada artinya lagi. Kini, Heri bersama himpunan Pengusaha pemuda Indonesia (HIPMI) kota depok sedang mewacanakan konsep Ecopreneur yakni melihat bisnis dari pendekatan ekologi(lingkungan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar